Durian Montong, yang sering disebut sebagai “Raja Buah”, memiliki tempat istimewa di hati dan dapur Asia Tenggara.
Terkenal karena teksturnya yang kaya, lembut, dan aromanya yang khas, varietas durian ini telah memikat para pecinta kuliner maupun penikmat kuliner yang berani. Namun, apa yang membuat Durian Montong benar-benar unik?
Saat ini kita akan menyelami asal-usul Durian Montong yang menarik, mengeksplorasi profil rasanya yang kompleks, dan mengungkap mengapa ia telah mengumpulkan basis penggemar setia di seluruh Asie Tenggara.
Baik Anda seorang penggemar durian sejati atau ingin tahu lebih banyak tentang buah ikonis ini, bergabunglah dengan kami dalam menguak kisah di balik popularitas Durian Montong.
Baca juga :
Dapur Cip Cip Wok – Masakan Peranakan Tionghoa-Amerika Pertama di Malang

1. Asal Usul dan Sejarah Durian Montong
Durian Montong, yang sering disebut sebagai “Raja Buah”, memiliki sejarah panjang yang berakar kuat di Asia Tenggara, terutama di Thailand, tempat durian ini awalnya mendapatkan pengakuan luas.
Varietas Montong diyakini telah dibudidayakan selama beberapa dekade, dengan namanya yang berarti “bantal emas”, merujuk pada bentuknya yang besar dan montok serta daging buahnya yang berwarna kuning keemasan cerah.
Ketenaran varietas durian ini tak lepas dari perkembangan pertanian dan upaya ekspor Thailand di akhir abad ke-20, yang turut memperkenalkan durian Montong ke pasar internasional.
Secara tradisional ditanam di iklim tropis Thailand timur, durian Montong tumbuh subur di tanah subur dan kondisi cuaca ideal di wilayah tersebut.
Seiring waktu, buah ini telah menjadi ikon budaya, dirayakan dalam festival lokal, dan disayangi oleh para pencinta durian di seluruh Asia Tenggara.
Sejarahnya bukan hanya kisah budidaya, tetapi juga tradisi, komunitas, dan kecintaan abadi terhadap buah yang terus memikat selera di seluruh dunia.
Baca juga :
Kenalan dengan Aurel Stefanie – Kreator Animasi 3D asal Malang – Jawa Timur
2. Memahami Profil Rasa yang Unik
Salah satu aspek paling menarik dari durian Montong adalah profil rasanya yang khas, yang membedakannya dari varietas durian lainnya.
Dikenal karena teksturnya yang kaya, lembut, dan rasa manis yang seimbang, Montong menawarkan pengalaman rasa yang kompleks yang menyenangkan para penggemar durian di seluruh Asia Tenggara.
Pada gigitan pertama, Anda akan disambut dengan konsistensi yang lembut dan seperti mentega yang meleleh di mulut Anda, disertai dengan sedikit aroma almond dan karamel.
Tidak seperti beberapa durian yang bisa sangat menyengat, Montong mencapai keseimbangan yang harmonis antara aroma kuat khasnya dan aroma yang lebih lembut.
Sehingga lebih mudah diterima oleh lidah siapapun, bahkan mereka yang baru pertama kali mencoba menyantap durian.
Kombinasi rasa dan aroma yang unik ini menjadikan durian Montong favorit tidak hanya bagi para pecinta durian berpengalaman tetapi juga bagi mereka yang mencoba buah ini untuk pertama kalinya.
Memahami nuansa ini membantu menghargai mengapa Montong telah mendapatkan reputasinya dan pengikut yang bersemangat di seluruh wilayah.
Baca juga :
Memilih Tempat Makan Kopitiam Terbaik di kota Malang
3. Praktik Budidaya dan Panen
Durian Montong, sering disebut sebagai “Raja Buah” di Asia Tenggara, berutang banyak rasa dan kualitasnya yang khas pada praktik budidaya dan pemanenan yang cermat yang digunakan oleh petani lokal.
Budidaya durian Montong membutuhkan iklim tropis dengan tanah yang dikeringkan dengan baik, curah hujan yang cukup, dan suhu yang konsisten, kondisi yang melimpah di wilayah seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia.
Petani biasanya memperbanyak pohon durian Montong melalui okulasi, memastikan bahwa karakteristik varietas yang berharga—seperti teksturnya yang lembut dan rasanya yang manis—terpelihara.
Pohon-pohon membutuhkan waktu beberapa tahun untuk matang, seringkali sekitar 4 hingga 6 tahun sebelum mulai berbuah.
Selama periode ini, petani dengan cermat merawat pohon-pohon, menyediakan pemangkasan, pemupukan, dan pengendalian hama secara teratur untuk memaksimalkan kualitas buah.
Memanen durian Montong adalah proses yang rumit, biasanya dilakukan dengan tangan ketika buah mencapai kematangan penuh.
Tidak seperti buah-buahan lainnya, durian tidak matang setelah dipetik, jadi waktu sangat penting; Petani sering kali mengandalkan pengalaman dan indikator spesifik, seperti aroma yang khas, suara saat digoyang, dan sedikit retakan pada kulit buah, untuk menentukan waktu panen yang tepat.
Pasca panen, durian ditangani dengan hati-hati untuk mencegah kerusakan pada bagian luar yang berduri dan daging buah yang lembut seperti puding di dalamnya.
Perhatian terhadap detail selama budidaya dan panen ini membantu memastikan durian Montong sampai ke konsumen dalam kondisi prima, mempertahankan cita rasa yang kaya dan tekstur lembut yang telah membuat varietas ini memiliki banyak penggemar setia di seluruh Asia Tenggara.
Baca juga :
Kopi Gula Kelapa yang Aman di Lambung
4. Makna dan Popularitas Budaya di Asia Tenggara
Di Asia Tenggara, durian sering disebut sebagai “Raja Buah”, dan makna budayanya begitu mendalam di seluruh wilayah.
Di antara sekian banyak varietas, durian Montong memiliki tempat istimewa karena keunikannya dan popularitasnya yang meluas.
Buah ini lebih dari sekadar hidangan lezat; ia melambangkan tradisi, komunitas, dan kecintaan abadi terhadap cita rasa yang berani.
Di negara-negara seperti Thailand, Malaysia, dan Indonesia, festival dan pertemuan durian mempertemukan orang-orang untuk merayakan musim panen, menumbuhkan rasa persaudaraan dan warisan bersama.
Varietas Montong, khususnya, dihargai karena teksturnya yang kaya dan lembut serta rasa manis yang sedikit pahit, yang telah memikat penduduk lokal maupun pencinta kuliner yang gemar berpetualang.
Popularitasnya terus meningkat bukan hanya karena rasanya yang khas tetapi juga karena perwujudan kebanggaan daerah dan identitas budayanya.
Baik dinikmati segar, dalam hidangan penutup, maupun sebagai penyedap dalam berbagai hidangan, durian Montong tetap menjadi simbol budaya Asia Tenggara yang dicintai—yang mengundang rasa hormat sekaligus rasa ingin tahu dari mereka yang ingin merasakan pesona legendarisnya.
Baca juga :
Menyantap Kue Terang Bulan yang Lembut dan Lumer
————————-










